JAKARTA, KOMPAS.com - Calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang mengungkapkan idenya untuk mengevaluasi teknologi KPK secara rutin guna mendukung kinerja dalam pemberantasan korupsi.

Ide tersebut disampaikan Saut kepada Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK saat mengikuti wawancara tahap akhir di Gedung Setneg, Jakarta, Rabu (26/8/2015).

"Setiap dua tahun KPK harus mengevaluasi teknologi penyadapan, hidden camera," kata Saut.

Ia melontarkan usulan tersebut dengan kapasitasnya sebagai staf ahli Kepala Badan Intelijen Negara dan pengajar persaingan intelijen di Universitas Indonesia. Menurut Saut, pemutakhiran teknologi akan membantu KPK melaksanakan tugasnya.

"Evaluasi teknologi investigasi KPK ini perlu untuk penjebakan, tangkap tangan. Arahnya ke teknologi Eropa. Tapi ini bisa diperdebatkan karena berkaitan dengan pengadaan," ujarnya.

Saut mengaku mendaftar sebagai calon pimpinan KPK karena keinginan pribadi. Ia juga mengaku telah empat kali mengikuti seleksi calon pimpinan KPK karena ingin memberikan contoh kepada mahasiswanya untuk berani mengambil profesi yang berisiko tinggi. (baca: Calon Pimpinan KPK Ditanya soal Laporan Tak Bayar Pajak Mobil Mewah)

Jika terpilih menjadi pimpinan KPK, Saut ingin pencegahan dan penindakan korupsi dilakukan secara seimbang. Saut memasang target indeks korupsi Indonesia menurun dalam lima tahun ke depan.

"Kalau hari ini KPK dapat nilai 7, dalam waktu lima tahun nilainya 8 atau 8,5," katanya.