KORBAN Norsepiyanti atau yang biasa disebut Yanti terus bertambah. Satu per satu, para investor yang merasa terkecoh, melapor ke Polres Kotawaringin Timur (Kotim) di Sampit. Setelah sebelumnya Siti Ruhani alias Siti,36, melaporkan kasus penipuan senilai Rp125 juta yang dilakukan oleh perempuan berusia 27 tahun tersebut, kini sebanyak 16 korban lainnya juga melapor perkara yang sama ke Polres Kotim. “Kami terus mendalami kasus ini. Pelaku sudah tidak berada di kediamannya,” tandas Kasat Reskrim Polres Kotim AKP Andri Samudra Yudhapatie.

Data terhimpun, total kerugian dari 16 korbannya itu mencapai Rp18 miliar. Melly,35, seorang pelapor mengatakan, ia tertipu setelah bekerja sama investasi uang dengan terlapor 3 bulan lalu. Dengan jumlah uang Rp30 juta, dan dijanjikan dalam sebulannya mendapatkan keuntungan Rp5 juta.

Namun setelah dua bulan berjalan, keuntungan yang disepakati tidak juga sampai kepada korban. Mengetahui hal tersebut, dia langsung menghubungi Yanti, namun telepon genggamnya tidak aktif lagi. “Setelah itu saya juga mendatangi rumahnya yang berada di Desa Terantang Hilir, Seranau. Tapi juga tidak ada, saat ditanya kepada suaminya, Dia mengaku tidak tahu menahu persoalan tersebut,” ujar Melly, Selasa (24/3).

Selain Melly, Enah, warga Baamang juga bernasib sama. Kali ini uang yang dikeluarkan lebih besar lagi, yakni Rp2 miliar. Keuntungan dan modus yang ditawarkan pun sama. Yaitu usaha jual beli pupuk yang sedang digeluti pelaku.

Keuantungan akan didapat korban setelah melakukan investasi uang sebanyak Rp25 juta. Sehingga dalam sebulannya akan mendapatkan keuntungan Rp5 juta. “Mendengar keuntungan sebesar itu, siapa yang tidak mau, apalagi saat itu saya memiliki uang. jadi saya percaya saja,” ucap Enor, korban lainnya.

Memang beberapa bulan  sebelumnya Enor mengaku sempat dapat uang keuntungan dari terlapor. Namun setelah itu tidak ada kabar kelanjutannya. Bahkan Yanti tidak juga datang ke rumahnya. Sadar akan hal tersebut, dirinya langsung mendatangi butik milik terlapor yang berada di Jl Mucrhan Ali. Namun tidak juga bertemu, bahkan butik tersebut telah tutup.

Melihat hal itu ia berinisiatif datang ke rumahnya. Tapi hal yang sama juga terjadi, karena hanya suaminya saja yang menghadapi pelapor, dan mengaku tidak tahu keberadaan istrinya. “Masak suaminya tidak tahu istri pergi, sepertinya sudah sekongkol,” lanjut Enor.

Selain 16 orang tersebut, baik Melly maupun Enor mengatakan bahwa korban penipuan  yang dilakukan Yanti ini sangat banyak. Bahkan tidak hanya di Kota Sampit saja. Namun di luar daerah seperti Seruyan juga ada yang menjadi korbannya. (MH/B-5)