CANBERRA, KOMPAS.com — Mantan Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, berharap dirinya merupakan sosok pemimpin politik terakhir yang diganti dengan cara "seperti mengganti baju" demi menyesuaikan diri dengan gaya yang berlaku.

Dalam wawancara panjang dengan Ray Hadley dari Radio 2GB di Sydney, Selasa (29/9/2015), Abbott juga berharap pemilih tidak meninggalkan koalisi Partai Liberal dan Nasional gara-gara apa yang terjadi dengan dirinya.

Wawancara ini dilakukan dua pekan setelah Abbott tersingkir dari posisinya sebagai Ketua Partai Liberal sekaligus perdana menteri, setelah dikalahkan oleh Malcolm Turnbull melalui voting internal Partai Liberal.

"Saya harap apa yang terjadi dengan saya dua minggu lalu bisa mengakhiri semua ini agar kita bisa meninggalkan konsep mengganti pemimpin seperti mengganti baju untuk menyesuaikan diri dengan mode," kata Abbott, yang disiarkan langsung oleh stasiun TV ABC.

"Negara kita jauh lebih baik dari hal itu," tambahnya.

Pewawancara Ray Hadley sempat membacakan beberapa e-mail dari pendengar yang menyatakan bahwa mereka merasa dikhianati dengan cara penggantian pemimpin seperti yang dialami Tony Abbott.

"Tentu saja buruk akibatnya apabila pemilih meninggalkan Partai Koalisi gara-gara hal ini," kata Abbott menjawab e-mail tersebut.

"Lebih baik saya tetap bertahan dan berjuang di dalam (pemerintahan). Saya bisa pahami bahwa banyak orang di luar sana yang kecewa dengan apa yang terjadi. Namun, saya ulangi lagi, akan lebih buruk jika kita memiliki enam perdana menteri dalam enam tahun," ujar Abbott, seakan menepis spekulasi bahwa dirinya akan membalas menjatuhkan PM Turnbull di tengah jalan.

"Meskipun berat, ayo kita dukung perdana menteri, dukung pemerintah," tambahnya.

Hal yang dialami Tony Abbott juga dialami oleh Kevin Rudd saat Partai Buruh memegang pemerintahan Australia. Rudd ditantang dan kalah voting di internal Partai Buruh oleh Julia Gillard.

Namun, Julia Gillard pun belakangan diganti di tengah jalan sebagai perdana menteri setelah Kevin Rudd membalas menantangnya melalui voting internal Partai Buruh.

Dalam Pemilu Federal akhir 2013, Kevin Rudd kemudian dikalahkan secara telak oleh Tony Abbott, yang saat itu masih merupakan pemimpin oposisi.

Uniknya, posisi Tony Abbott sebagai pemimpin oposisi pun sebenarnya dia raih setelah menggeser Malcolm Turnbull dari posisi tersebut melalui voting internal Partai Liberal dengan selisih tipis satu suara.

Salah satu faktor yang membuat banyak menteri dan senator yang mendukung penggantian Tony Abbott adalah kekecewaan mereka terhadap sosok Peta Credlin, yang merupakan kepala staf di kantor perdana menteri.

Selain itu, juga kekecewaan terhadap kinerja mantan Menteri Perbendaharaan Negara (Treasurer) Joe Hockey.

Namun, Abbott menepis pandangan bahwa dia akan bertahan sebagai perdana menteri jika kedua orang dekatnya itu diganti.

"Itu hanya mitos. Anggapan bahwa orang yang haus akan perubahan akan puas jika Joe diganti atau jika kepala staf saya diganti, sama sekali tidak masuk akal," paparnya.

Mengenai masa depannya sendiri sebagai politisi, Abbott menyatakan bahwa usianya yang baru 57 tahun masih menyisakan banyak waktu untuk mengabdi di bidang politik.

Abbott menyatakan "tidak akan ada pemilu sela" di dapilnya karena ia mundur dari parlemen.
Editor : Egidius Patnistik
Sumber : Australia Plus ABC