KOMPAS.com — Malaysia memerintahkan penutupan sekolah selama dua hari, mulai Senin hingga Selasa (6/10/2015), di hampir semua wilayah, karena tebalnya asap di negara tersebut. Semua kegiatan belajar-mengajar diliburkan kecuali di Negara Bagian Kelantan, Sabah, dan Serawak, seperti disampaikan pihak Pemerintah Malaysia. Setidaknya status "sangat tidak sehat" berlaku di lima kawasan Malaysia, dan satu daerah disebutkan berada pada tingkat polusi udara dengan "tingkat berbahaya". Menteri Pendidikan Mahdzir Khalid kepada kantor berita AFP mengatakan, ada risiko ancaman kesehatan jika tetap memaksakan anak-anak untuk masuk sekolah. Lomba maraton yang diikuti 30.000 peserta juga sudah dibatalkan. Para ahli mengatakan, kabut asap menyebabkan batuk dan infeksi paru-paru. Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengatakan, Pemerintah Indonesia harus menindak pihak-pihak yang menyebabkan kebakaran atau pembakaran hutan. Kabut asap ini berasal dari Indonesia dan secara berkala telah menjadi penyebab ketegangan di kawasan sejak beberapa tahun terakhir. Namun, Presiden Indonesia Joko Widodo atau Jokowi dalam wawancara dengan BBC mengatakan, "Asap adalah masalah yang tidak bisa diatasi dengan cepat." "Ini perlu waktu. Pekerjaan fisik (untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan) ini perlu waktu. Perkiraan saya, tiga tahun mengerjakan pekerjaan fisik ini. Namun, saya meyakini, setiap tahun akan berkurang karena ada konsistensi untuk pengerjaan infrastruktur yang berkaitan dengan asap, dan juga penegakan hukum. Ini penting sekali," kata Presiden Jokowi. Sekitar dua pekan lalu, Pemerintah Malaysia juga menutup sekolah di lima wilayah, yaitu Kuala Lumpur, Putrajaya, Negara Bagian Selangor, Negara Bagian Melaka, dan Negara Bagian Negeri Sembilan. Editor : Egidius Patnistik Sumber : BBC Indonesia