CJ Evella FM

Juhu Singkah

Monday, 23 February 2015 Culinary

kalimantan merupakan pulau yang sangat besar dan disana banyak terdapat suku-suku yang tinggal jd sudah tentu akan ada banyak kuliner enak sesuai dengan selera suku-suku tersebut. jika di kalimantan timur ada ayam cincane,soto banjar di kalsel dan di kalbar ada lempok dan bubur pedas maka di kalteng ada kuliner khas yaitu Juhu Singkah
juhu singkah adalah makanan khas masyarakat Dayak, Kalimantan Tengah, yang sangat lezat. Makanan ini bisa dijumpai di Kota Palangkaraya, Kalteng. Makanan yang terbuat dari umbut rotan ini lebih lezat bila dipadukan dengan ikan betok. Umbut rotan diperoleh warga dengan mencarinya di sekitar hutan tempat mereka

Baung Kuah Asam

Monday, 23 February 2015 Culinary

Ibukota Kalimantan Tengah, Palangkaraya berada persis di antara kawasan lahan gambut sejuta hektar yang dulu dibuka untuk para transmigran oleh Soeharto.

Kini kota Palangkaraya, yang sejatinya ada di kawasan hutan lindung kini terus tumbuh. Mal dan perkantoran berdiri, juga kafe dan warung makan di sepanjang jalan utama.

Melancong ke kota ini, satu yang menarik adalah makan di rumah makan yang menyediakan menu lokal tradisional. Waktu itu karena sedang tergesa saya lupa mencatat alamat tempat makan tersebut.

Tapi setidaknya saya sukses mencicip ikan baung goreng dengan kuah asam. Ikan baung merupakan ikan sungai yang berada di seantero Indonesia. Di Jakarta dan sejumlah kawasan Jawa Barat, di Sumatera, juga di Kalimantan.

Semula saya hanya ingin mencicip ikan baung goreng dengan sambal terasi. Tapi si penjual menawarkan sayur asam.

Berharap cemas, saya menantikan menu baung goreng dan sayur asam. Terbayanglah sajian menu yang terpisah dalam benak. Tak lama, pelayan menghantarkan menu yang saya pesan. Nasi pulen sebakul kecil, dua porsi sambal terasi dan ikan baung.

Ikan baung yang tersaji ternyata dimasukkan ke dalam mangkuk berisi sayur asam. Sempat terpikir saya akan mencicip sayur asam seperti yang biasa saya makan di Jakarta. Sayur, dengan beragam jenis sayuran seperti daun melinjo, pepaya muda, kacang panjang dan lainnya.

Di Palangkaraya, sayur asam ternyata sayur dengan kuah asam dari tomat, yang menyertakan rotan muda. Ini mirip sekali dengan rebu g yang kadang di masak dengan kuah santan di Bandung, Bogor dan sebagian wilayah Sumatera Barat dan Selatan.

Rasa kuah yang tentu asam, ini ternyata rasa dan teksturnya makin menarik dengan, rotan muda. Alhasil, semua saya cicip, plus tumis batang talas muda.

Sesekali perlu anda coba. Utamanya untuk yang mau mengenal paduan bumbu non Jawa dan Sumatera.

Silakan, restonya berada tak jauh dari Bandara Tjilik Riwut

Tiba di pulau seribu sungai, Pulau Kalimantan, belum afdol kalau belum mencicipi kulinernya. Kalimantan Tengah, adalah salah satu sumber wisata eksotis dan menantang, terdapat wilayah yang masih asri dan belum terjamah tangan-tangan manusia.

 

Menemani wisata alam Anda ke Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, jangan lewatkan kuliner andalannya, yakni Singkah Uwei. Singkah Uwei adalah sayur khas Suku Dayak, dalam bahasa Indonesia artinya Umbut Rotan. Warnanya kuning, sangat menggoda mata, sesuai dengan namanya, makanan khas ini dibuat dari batang rotan yang masih mu­da. Unik bukan? Jika selama ini kita mengenal rotan sebagai bahan baku pembuatan tali atau berbagai kerajinan seperti kursi dan tikar, masyarakat Palangkaraya menyulapnya menjadi kuliner yang khas.

 

Walaupun agak pahit, namun tetap gurih dan nikmat. Membuat Singkah Uwei memang cukup sulit, terlebih dahulu duri yang menempel di umbut rotan. Dibersihkan. Setelah kulitnya dibuang, bagian dalam yang agak lunak dipotong dengan ukuran kecil. Dibutuhkan bumbu berupa kemiri, kunyit, lengkuas, bawang putih, bawang merah, dan garam, agar cita rasa yang dikeluarkan semakin kuat. Umbut rotan biasanya dicampur dengan ubi keladi yang telah dipotong-potong, dan dicampur bumbu-bumbu sayuran.

 

Singkah Uwei akan semakin lezat jika disajikan dengan ikan patin bakar, ikan baung bakar atau ikan seluang goreng dan terong asam. Tambahan sambal serai dan cempedak goreng (Mandai) menjadikan makanan ini lebih pas di lidah.

 

Makanan khas Palangkaraya ini akan kita jumpai di rumah makan tertentu saja. Warga setempat sendiri sudah jarang yang membuat Singkah Uwei, kecuali warga di pedalaman, karena sulit untuk mendapatkan bahan baku rotan muda. Rumah Makan Samba adalah yang paling direkomendasikan jika Anda ingin mencicipi Singkah Uwei, rumah makan yang terletak di Jalan RTA Milono No 15 ini memang menjadi salah satu dari dua rumah makan yang menyediakan makanan khas Palangkaraya.

 

Kabarnya, rasa pahit pada Singkah Uwei berfungsi mencegah penyakit malaria. Wah, ternyata kuliner Palangkaraya ini berfungsi ganda. Selain mengenyangkan perut Anda, kesehatan pun bisa terjaga. (Laras)

Pulang Pisau, Kalimantan Tengah – Trip mancing di Sungai Sebangau begitu eksotik dan menantang. Walaupun trip ini dilakukan satu hari penuh, kenangan terindah dan pengalaman yang saya dapatkan tidak bisa hilang begitu saja, bahkan terngiang terus setibanya di Jakarta untuk kembali lagi

    Berawal dari keinginan saya untuk trip mancing di Palangkaraya. Kali ini trip dilakukan di  Sungai Sebangau, Desa Nelayan Muara Garong (Eks Camp Silawati), Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah akhir September 2014 lalu.

    Lokasi yang akan saya datangi menurut rekan saya dari Palangkaraya, luasnya membentang dari Kota Palangkaraya sampai Kabupaten Pulang Pisau dengan panjang mencapai 600 km dan lebar 45 meter dengan kedalaman rata-rata 7-12 meter.

    Sebangau 5Sementara itu informasi yang diperoleh jenis ikan di sungai itu pun beragam seperti ikan kerandang, toman, tapah, haruan, peyang, kapar, pepuyu, lais, saluang dan buaya. Menurut pengakuan warga sekitar yang ditemui, ikan terbesar yang pernah tertangkap disana ikan tapah dengan bobot lebih dari 100 kg, yang tertangkap menggunakan jebakan nelayan.

    Ada mitos atau larangan tertentu mancing di lokasi yang akan saya datangi, apa itu? dilarang bawa ke lamang (ketan bambu) dan jangan atau dilarang membakar ikan seluang selama trip berlangsung.

 

Strike kerandang 20 ekor

    Trip  ini selain saya (Kang Ito, Jakarta) ada Tonny Halim (Palangkaraya) dan sang Motoris (Kapten) Pak Sugi. Trip berangkat atau diawali dari Palangkaraya, Kelurahan Kereng Bangkirai pada jam 03.30 tepat dari dermaga. Untuk mencapai spot mancing tersebut kami harus menggunakan perahu motor dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam.

    Untuk kondisi alamnya jauh dari pemukiman penduduk, namun dalam perjalanan kita dapat melihat pemukiman-pemukiman kecil desa nelayan.

    Sebangau 2Setibanya di lokasi yang pertama kali kami lakukan adalah mengenali kondisi spot dengan seksama. Joran dan ril yang digunakan Eupro Silent Killer II 165cm 8-15 lbs dan ril Flueger Trion seri 2000. Sedangkan umpan yang dipakai umpan selam model spinner blade, spinner bait dan buzz bait, serta jenis umpan permukaan seperti popper. Teknik mancing yang kami gunakan casting.

    Setelah semuanya dianggap aman oleh kapten kapal, kami pun mulai mancing. Gempuran umpan ke spot-spot potensial yang ada membuat tidak sabaran lagi untuk segera fight dengan ikan-ikan yang ada di Sungai Sebangau ini.

    Dan apa yang saya harapkan akhirnya terjadi, umpan saya disambar. Reaksi yang pertama muncul adalah shock bercampur gembira, karena ikan langsung tanpa basa basi tancap gas membawa umpan ke tempat persembunyiannya.

    Woow……perasaan campur aduk pun berkecamuk, dengan semangat saya mulai meladeni fight dengan jenis ikan yang tidak tahu jenis ikan apa itu. Tak lama kemudian ikan muncul dari permukaan air dan ternyata ikan kerandang dengan size mini sekitar 3-4 ons. Walaupun kecil bagi saya itu kebanggaan tersendiri.

    Kejadian fight dengan ikan kerandang di spot Sungai Sebangau ini terjadi sekitar jam 8-9 pagi dan biasanya sudah mulai ada tanda-tanda pergerakan ikan dengan suara tenggakannya di dalam tanaman rasau yang membentang di sepanjang aliran Sungai Sebangau, kemudian ditandai dengan datangnya angin pasang yang membuat air menjadi bergelombang dan membuat ikan-ikan bergerak menuju ke area yang sedikit terbuka.

    Ada baiknya kalau air bergelombang, lebih efisien menggunakan umpan selam jenis spinner blade dan spinner bait, untuk buzz bait kita gunakan dengan menenggelamkan umpan saat di retrieve sekitar 10-15 cm dari permukaan. Dan untuk ikan kerandang lebih efisien jika diserang secara “brutal” karena saat kawan kita strike, kita bisa langsung lemparlure ke posisi yang sama dan memperoleh peluang strike lebih besar karena sifat ikan kerandang yang hidup berkelompok.

    Sebangau 4Untuk  bertarung dengan ikan kerandang size mini 3-4 ons tidak butuh waktu lama sekitar 5-10 detik sudah bisa landed, kalau yang bobotnya 7 ons sekitar 10-15 detik. Tergantung jarak lemparan lure. Selain saya, semua angler pun juga berhasil mendapatkan ikan kerandang.

    Seharian mancing di Sungai Sebangau banyak kesan dan peristiwa yang tidak bisa saya lupakan seperti saat berangkat menuju titik spot, kalau rezeki lagi bagus kita bisa melihat buaya melintasi di Sungai Sebangau, selain itu spot ini pun ikannya banyak sehingga ada istilah dari kawan-kawan disini “jangankan lempar umpan, cuci kaki aja langsung disambar kerandang”.

    Ikan yang berhasil saya dapatkan di Sungai Sebangau ini kebanyakan ikan kerandang dan toman pernah saya dapatkan di sungai ini, beratnya pun variasi, untuk kerandang mulai 2 ons sampai 2,2 kg, untuk ikan toman mulai 6 ons sampai 4,1 kg. Total ikan yang kami dapatkan pada trip seharian ini, ikan kerandang 20 ekor, mocel dan miskol lebih dari 80 kali.

    Puas mancing di Sebangau, kapten perahu memberitahu agar segera kembali ke darat. Mancing kami sudahi dan hasil didapat pun memuaskan. Pukul 16.20 kami meninggalkan lokasi mancing dan sampai di dermaga jam 15.05.