Budaya

Mengenal Budaya Dayak

Wednesday, 25 February 2015 Budaya

APRIANDI (27) dan Okta Narung (24) memasang kuda-kuda pencak silat khas Dayak, kuntau. Tatapan mata mereka saling mengunci. Tangan mengambang dan berputar di udara, bersiap melepaskan pukulan. Kaki mereka menyapu tanah, kemudian pelan-pelan saling mendekat dan beradu di bawah palang kayu. Tabuhan gendang manca mengiringi setiap gerakan mereka, diselingi sorakan dukungan dari penonton.

Itulah kesenian Lawang Sekepeng, salah satu kesenian budaya suku Dayak yang biasa digunakan pada upacara adat pernikahan dan penerimaan tamu. Pada acara pernikahan, pengantin laki-laki harus menyampaikan maksud dan tujuannya berkunjung kepada pengantin perempuan. Setelah niatnya diterima oleh tuan rumah, pengantin laki-laki harus menunjukkan kemampuan dengan melawan anggota keluarga yang dianggap kuat.

Pertandingan adu kekuatan itu berada di bawah Lawang Sekepeng, yaitu semacam gerbang yang terbuat dari palang kayu. Di antara kedua tiangnya melintang sebuah lawai atau benang berhiaskan bunga yang melambangkan marabahaya dan rintangan yang harus diputuskan. ”Benang itu harus diputus sebagai tanda bahwa bahaya yang menghadang sudah dihilangkan,” kata Apriandi, Sabtu (30/8/2014).

Demikian juga dengan upacara penerimaan tamu atau pendatang. Seorang tamu pun harus menyampaikan tujuan kunjungannya agar dipahami dan diterima tuan rumah. Diharapkan, dalam relasinya kemudian tidak ada aral rintangan yang mengganggu.

Apriandi dan Okta adalah perwakilan dari Kecamatan Jekan Raya, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang mengikuti lomba Lawang Sekepeng pada Festival Bantaran Sungai Kahayan II yang digelar di Culture Park, yaitu di halaman kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangkaraya, pada Jumat hingga Minggu (31/8/2014). Festival ini merupakan kali kedua yang digelar Pemerintah Kota Palangkaraya.

Di sisi lain halaman, kelompok para bapak dan ibu dari lima kecamatan di Palangkaraya sedang menumbuk padi ketan di lesung menggunakan alu. Mereka sedang berlomba membuat emping ketan atau mangenta.

”Kenta adalah makanan khas suku Dayak dan cara membuatnya perlu teknik yang harus dipelajari. Dalam menumbuk padi ketan, iramanya harus teratur dengan pasangan yang menumbuk,” kata Lame (53), perwakilan dari Kecamatan Bukit Batu.

Berbagai macam jenis lomba kesenian suku Dayak ditampilkan dengan peserta seluruh warga Palangkaraya, baik dari anak-anak hingga dewasa. Pada Jumat malam, misalnya, digelar lomba fashion show busana tradisional untuk kategori usia 6-11 tahun. Ada 13 peserta yang tampil mengenakan busana tradisional entik Dayak.

 

Safitri (6), salah satu peserta, misalnya, menampilkan pakaian Sangkarut yang berarti pula bajarat atau diikat. Bahan dasar pakaian itu adalah kulit kayu (nyamu) yang dikombinasikan dengan kain. Busana itu diperindah dengan payet berwarna kuning dan merah serta bermotif kalalawit atau tanaman rambat.

Ratusan warga Palangkaraya pun antusias memeriahkan festival itu dengan datang berbondong-bondong ke acara festival. Pada Sabtu malam banyak warga yang mengisi waktu bermalam minggu bersama keluarga dengan menyaksikan aneka pertunjukan tradisional itu.

”Festival ini sangat menghibur dan bisa mengenalkan kebudayaan Dayak kepada anak- anak,” kata Heri (37), warga Jalan Tjilik Riwut Km 7, yang datang bersama istri dan kedua anaknya.

Wisata berbasis sungai

Festival Bantaran Sungai Kahayan II digelar untuk melestarikan kebudayaan Dayak dan menarik minat wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam pembukaan festival di kawasan Flamboyan, yaitu di tepi Sungai Kahayan, Jumat
pagi, Wali Kota Palangkaraya Riban Satia berharap potensi sungai wisata dikembangkan.

”Kawasan Flamboyan di tepi Sungai Kahayan ini bisa dijadikan tempat wisata. Memang fasilitas dan akses jalan masih perlu diperbaiki, warga setempat juga perlu dilibatkan,” kata Riban.

Sungai Kahayan adalah salah satu dari 11 sungai besar yang ada di Kalteng. Panjang sungai ini 600 kilometer, lebar sekitar 450 meter, dengan kedalaman sekitar 7 meter. Sungai yang berkelok-kelok itu berhulu di Kabupaten Gunung Mas,
melintasi Kabupaten Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya, kemudian bermuara di daerah Bahaur, Kabupaten Pulang Pisau.

Suku Dayak sebagai penduduk asli Kalteng banyak bermukim di sepanjang daerah aliran sungai itu dan menggantungkan hidupnya dari kekayaan alam di sekitarnya. Dari interaksinya dengan alam itu, lahirlah aneka kebudayaan yang mencerminkan kearifan lokal bagaimana hidup berdampingan dengan alam.

Pembukaan festival dimeriahkan oleh tari Kahanjak Atei yang ditarikan dua penari laki-laki dan tiga penari perempuan. Kahanjak Atei berasal dari bahasa Dayak Ngaju yang berarti kegembiraan hati. Tarian itu menggambarkan suasana sukacita dan keceriaan masyarakat suku Dayak Ngaju dalam suatu perhelatan adat. Dalam perhelatan adat itu, disajikan pula tarian pergaulan yang disebut Tasai atau Manasai, diiringi tetabuhan tradisional Pukul Gandang Garantung yang dinamis.

Pegiat Seni Kota Palangkaraya, Benny M Tundan, mengharapkan festival semacam itu terus diadakan secara rutin. ”Event kebudayaan ini bisa menjadi produk unggulan dari Kota Palangkaraya yang dikenal secara nasional dan internasional,” kata Benny.

City Manager of Oak Ridge, Tennessee, Amerika Serikat, Mark S Watson, yang sedang berkunjung ke Palangkaraya dalam rangka pengembangan tata kelola perkotaan, mengagumi indahnya kesenian dan tarian suku Dayak. ”Saya terkesan dengan tari-tarian suku Dayak,” kata Mark.

Menurut dia, wisata alam dan kebudayaan di Palangkaraya merupakan potensi pariwisata yang masih tertidur sehingga perlu dibangun dan dikembangkan.

Lomba jukung (perahu) hias adalah satu satu cabang lomba dalam kegiatan Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) yang diadakan oleh pemerintah provinsi Kalimantan tengah. FBIM sendiri diadakan setiap tahunnya sekaligus merayakan hari jadi provinsi Kalimantan Tengah.

Lomba jukung hias tahun ini diadakan pada tanggal 19 Mei 2014 yang mengambil rute di sepanjang Sungai Kahayan yang membelah kota Palangkaraya, dimulai dari Pelabuhan Rambang, kemudia peserta dari masing-masing kabupaten berlayar hingga Jembatan Kahayan dan kembali lagi ke titik semula.

Keunikan perahu hias bukan cuma pada hiasan perahu yang kental dengan nuansa budaya Dayak, tapi juga para penari lengkap dengan kostumnya yang menawan menari melenggang-lenggokan badan seiring musik yang mengalun dari setiap perahu.

Berikut beberapa jepretan yang sempat saya abadikan ketika Lomba Jukung Hias Festival Budaya Isen Mulang:

Penonton yang rela panas-panasan
Serba kuning
Jukung motif Burung Enggang
Naganya kaya di Singapura aja 
Ada perahu dalam perahu
Walau miring tetap semangat
Kontingen Kabupaten Murung Raya
Dancing like a bird
Kostumnya heboh banget
Menarilah dengan riang

 

Indonesia begitu kental dengan warisan budaya, sebut saja dari rumah, tari-tarian, pakaian adat sampai makanan sangat kaya ragamnya. Sayangnya, kekayaan ini begitu mudahnya terlupa karena sentuhan modernitas dan rutinitas pekerjaan. Tergugah untuk mengenal lebih dalam kekayaan bangsa yang bergelar zamrud khatulistiwa ini? Simaklah salah satu catatan perjalanan Arsitek Lucia Harri Widiastuti tentang rumah Huma Betang, pusat kehidupan Suku Dayak, Kalimantan.

Ketika pesawat landing dengan cukup baik di bandara Tjilik Riwut, akhirnya saya diberi kesempatan untuk menginjakan kaki di tanah Borneo, tanah khatulistiwa, tanah Dayak. Walau sudah tengah malam, sekitar setengah dua belas malam ditambah tidak adanya penerangan jalan, saya sedikit melihat bahwa disana ada rawa gambut, semak belukar, yang mungkin saja mudah terbakar atau dibakar. Benar-benar khatulistiwa, dan benar-benar nyamuk.
Setelah dua hari berada di Kalimantan Tengah, tepatnya di Kabupaten Katingan, saya baru bisa berbincang dengan penduduk lokal “Kalimantan adalah Dayak, Dayak adalah Kalimantan,” kata seorang perempuan suku Dayak yang terkenal dengan tatonya. Bahasa yang mereka gunakan susah saya cerna. Untung ada pak Wigo, penerjemah yang selalu mengartikan dalam bahasa Indonesia.
Ketika saya berharap akan melihat rumah tradisional suku Dayak, ternyata saya salah karena satupun tak tampak. Entah karena punah atau memang bukan wilayah pemukiman suku Dayak. Yang ada hanyalah rumah-rumah panggung gaya melayu dengan tambahan ornamen tombak silang di atapnya, lambang Kalimantan.
Tak ingin kecewa, saya mencoba menuangkan tentang arsitektur tradisional suku Dayak. Arsitektur tradisional adalah arsitektur asli suatu daerah yang sudah diwariskan turun temurun oleh nenek moyang, arsitektur yang kuat dengan adat, tradisi, pola hidup, budaya, alam, serta ideologi lokal. Sifatnya, tidak boleh di ganggu gugat oleh apapun. Kadang, manusia saja yang tidak tahu diri dengan mengubahnya. Tengkorak manusia yang dipajang pada Uma Mentawai sama nilanya dengan ukiran Huma Panjang. Masyarakat membangunnya bergotong royong tanpa ada campur tangan tenaga ahli. Rakyat suku itulah yang disebut sang ahli.
Dayak, sebagai salah satu suku tertua Indonesia memiliki keistimewaan tersendiri bagi saya. Arsitektur tradisional Dayak dikenal dengan Huma Betang, atau biasa disebut rumah panjang, atau Lamin. Huma Betang bisa dijumpai di seluruh penjuru Kalimantan, terlebih di daerah hulu sungai, tempat suku Dayak bermukim. Sungai-sungai di Kalimantan biasanya lebar dan dalam. Mereka menggunakan sampan yang siap dikayuh untuk berladang dan beraktivitas lainnya.
Huma Betang, bisa mencapai panjang 150 meter, lebar 30 meter, dan tinggi 3 meter. Ruangnya terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, ruang utama rumah; ruang yang menghubungkan manusia dengan alam surgawi. Kedua, ruang bunyi gong; ruang yang menghubungkan manusia dengan penghuni alam surgawi. Ketiga, ruang ragawi yang tidak kelihatan, atau ruang surgawi.
Rumah ini merupakan rumah panjang, dengan material kayu sebagai material utama sudah sejak lama diketahui bahwa kayu cocok dengan iklim Indonesia yang tropis. Tanah rawan gempa sudah mereka persiapkan dengan kayu-kayu yang tidak terpaku, hanya terkait, bahkan tidak tertanam. Nenek moyang kita memang pandai.
Tinggal di tepian sungai yang kadang kala terlanda banjir, menjadi alasan rumah panjang itu rumah panggung. Selain itu, rumah panggung juga berfungsi untuk menghindari dari ancaman binatang buas. Bahkan ada juga sebagai kandang binatang peliharaan.
Dalam satu Huma Betang biasanya dihuni oleh beberapa keluarga, layaknya suku Dayak yang hidup berkelompok. Rumah disekat sebagai pemisah antar keluarga. Jika penghuni hendak melakukan sesuatu, seluruh penghuni akan bermusyawarah dahulu, untuk menemukan sebuah kesepekatan bersama. Maka Huma Betang merupakan jantung dari suku Dayak itu sendiri.
Suku Dayak mempercayai dalam pembangunan Huma Betang, bagian hulu rumah mengarah ke tempat sang surya terbit, dan bagian hilir mengarah ke terbenamnya matahari. Ini menjadi filosofi suku Dayak, mereka meyakini bahwa dalam menjalani hidup dimulai dari sang terbit dan pulang ke rumah menuju sang tenggelam.
Huma Betang hanya memiliki satu pintu dan tangga utama yang dinamakan hejot. Di halaman depan Huma terdapat sebuah balai yang digunakan untuk menjamu tamu atau untuk pertemuan. Di halaman tersebut juga ada sebuah patung berukir atau totem berbentuk manusia disebut sapundu. Sapandu digunakan untuk menancapkan binatang yang hendak dikurbankan saat tiwah. Halaman Huma Betang juga memiliki petahu; sebuah rumah terpisah yang dikhususkan sebagai rumah pemujaan.
Ada pula sejenis gudang bernama tukau di halaman belakang untuk menyimpan alat-alat pertanian, bawong untuk menyimpan senjata, sandung atau pambak sebagai tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal yang telah di tiwah. Sandung bisa ditempatkan di halaman depan atau di belakang.
Selain rumah sebagai jantung kehidupan, Kalimantan identik dengan sungai. Kali ini sungai itu bernama Katingan. Dari hulu ke hilir mencapai 650 km, lebarnya bisa mencapai 65 m, kedalaman 12 m. Tidak seperti halnya masyarakat Jakarta yang mempergunakan sungai sebagai halaman belakang, suku Dayak mengarahkan orientasi tata ruang menuju sungai. Sungai sebagai halaman depan. Maka, yang terlihat adalah sungai bersih berarus deras, dan memiliki fungsi ekonomi, sosial, bahkan budaya.
Sungguh, suatu pengalaman tersendiri menginjak tanah Borneo. Karena masih ada sungai yang mungkin kita tidak tahu bagaimana kembali ke hilir ketika mengayuh menuju hulu.